Kamis, 03 Februari 2011

Cerita Bersama Sang Murid 6

Mengikat Makna

January 26th, 2006 by hestiwuland
Hari ini, guru-guru YPS mendapat tamu dari Bandung. Beliau adalah Pak Hernowo, seorang penulis dan CEO MLC. Sebelum beliau datang, saya sudah membaca 3 buku karangan beliau yang menurutku sangat bergizi (meminjam istilah Pak Hernowo sendiri tentang isi buku).
Dalam diskusi tadi, Pak Hernowo dengan semangat ‘ngomporin’ para guru untuk rajin membaca agar otak tidak cepat rontok. Dalam bukunya yang berjudul ‘Menjadi guru yang mau dan mampu mebuat buku’, Pak Hernowo menuliskan bahwa output membaca buku adalah menjadikan diri sebagai seorang penulis cerita. Semakin banyak buku yang dibaca seseorang, maka semakin banyak pula kosa kata yang dimilikinya yang memudahkan seseorang itu mengeluarkan ide dengan beragam kata-kata dan kosa kata yang kaya. Nah, biar hasil membaca tidak menguap begitu saja, sebaiknya menuliskan hal yang ditemukan di buku bacaan itu kembali. Pak Hernowo menamakan ini sebagai proses mengikat makna.
Ngomong-ngomong soal mengikat makna, sudah dua minggu ini grade 4 A melakukan hal ini (walaupun saya sendiri baru tahu istilahnya adalah mengikat makna). Mereka saya beri tugas membuat ‘Reading Journal’ selama semester 2. Dengan begitu, saya berharap reading corner kelas 4A bisa hidup bukan hanya dengan komik Yu Gih Oh saja. Mereka harus membawa sebuah buku bacaan mereka (sebisa mungkin bukan komik, kalo komik yang berisi pengetahuan malah saya anjurkan) dan meminjamkan ke perpustakaan kelas yang diurusi oleh dua orang pustakawan kelas (jabatan ini akan dirotasi sebulan sekali). Setiap anak wajib membaca buku-buku yang ada di perpustakaan kelas 4 A, dan setelah membacanya harus menuliskan lagi apa yang mereka dapatkan dari bacaan itu di reading journal yang saya sudah siapkan. Saya menganjurkan mereka melakukan ini saat jam istirahat, setelah makan ataupun saat guru belum datang ke kelas. Bulan berikutnya buku yang mereka pinjamkan akan dikembalikan lagi dan mereka harus membawa buku yang lain lagi sehingga mereka kaya akan bacaan.
Saya senang sekali melihat kemajuan beberapa anak dengan tugas reading journal ini. Saya terkesan pada Dhanah, siswa saya yang tadinya ogah-ogahan di kelas, ternyata sekarang sudah menyelesaikan 3 lembar reading journal.
"Boleh kan, bu, kalau saya baca bukunya di rumah dan menulisnya di rumah juga?" Tanyanya.
"Oh, boleh, dong. Kamu bilang ke Eka, nanti dia yang catat buku apa yang kamu pinjam."
Farhan dan Eka yang bulan ini bertugas sebagai pustakawan juga melaksanakan tugas dengan baik. Mereka terlihat antusias.
Setelah diskusi pagi ini dengan Pak Hernowo, terselip rasa bangga karena saya mulai membiasakan murid-murid saya untuk ‘mengikat makna’. Namun, saya merasa malu untuk satu hal. Saya baru bisa mewajibkan mereka melakukan reading journal ini, padahal saya sebagai guru harus memberi teladan dulu. Seperti kata Pak Hernowo bahwa kunci utama siswa yang kesulitan adalah gurunya yang memberikan teladan.
‘In learning you will teach, In teaching you will learn’ (Phil Collins - A son of Man).
Dan sekarang saya yang belajar dari cara saya mengajar murid saya. Ganbarimasu!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar