Boys don’t cry…
December 14th, 2005 by hestiwulandHm… ini bukan karena era emansipasi wanita trus saya menyudutkan laki-laki. Bukan kok. Ini terjadi di dua kelas yang saya ajar.
Grade 4 A, Saat 28 murid sedang menyimak tentang bilangan bulat positif dan negatif, tiba-tiba ada yang mengadu.
"Bu, Anjar menangis!"
Semua murid yang sedang duduk si karpet serta merta menoleh ke belakang, ke arah Anjar. Sebenarnya saya punya peraturan di kelas, salah satunya tidak boleh mengadu. Peraturan itu saya buat karena saya sangat kerepotan dengan aduan mereka, sedikit-sedikit, "Bu…Dayat begini begini…", "Bu, ada yang ambil …" Kali ini saya mendiamkan si pengadu itu.
Hanya semenit kemudian, "Bu, Fandi juga nangis!!"
Akhirnya saya memberikan tugas dan meminta mereka mengerjakan di meja masing-masing. Anjar dan Fandi pun saya panggil.
"Kenapa, Anjar?" tanyaku.
Dengan mata berlinang dia curhat. Buku cetak matematikanya hilang sejak sebulan yang lalu, tadi sebenarnya saya tegur untuk mencarinya. Karena bagaimanapun dia butuh buku itu untuk latihan.
"Saya sudah cari dimana-mana, bu. Tapi hilang."
Saya marah. Tapi mana boleh marah pada anak umur 10 tahun yang sedang bingung.
"Anjar, kalau menangis apa bukunya bisa ketemu?" tanyaku.
Anjar menggeleng sambil menjawab,"Tidak, bu."
"Nah, tidak kan. Berarti perlu tidak menangis?"
Anjar kembali menggeleng.
"Ya, udah, kamu kerjakan tugasnya, salin aja dari buku temanmu. Dan tetap cari bukunya ya."
Anjar kemudian kembali ke tempatnya. Sekarang Fandi.
"Kok nangis, Fandi?"
"Tadi diledekin Dayat dan Aksan, Bu."
Nah, yang ini membuat aku gemes. Mau marah tapi lucu.
"Lah, kalo nangis memangnya Dayat dan Aksan berhenti ngeledekin?"
"Tidak, bu." kata Fandi sambil mengusap air matanya. Aku menatapnya, "Trus…tambah diledekin ga?"
Fandi mengangguk dan sebaris senyum malu-malu tampak di wajahnya.
"Dicuekin aja, Fandi. Perlu ga nangis?"
"Tidak, bu." jawab Fandi.
Dayat dan Aksan saya panggil. Dasar dua anak itu, mereka ketawa-tawa pas saya tanyain. "Bu, kan hanya bercanda, " Dayat membela diri. Akhirnya mereka bertiga salaman dan sudah tertawa-tawa kembali.
Saya pun lega dan berkeliling untuk melihat pekerjaan murid-muridku. Saat saya melihat murid-muridku yang laki-laki, terbersit sebuah permintaan di hati ini… Boys don’t cry!
Grade 4 A, Saat 28 murid sedang menyimak tentang bilangan bulat positif dan negatif, tiba-tiba ada yang mengadu.
"Bu, Anjar menangis!"
Semua murid yang sedang duduk si karpet serta merta menoleh ke belakang, ke arah Anjar. Sebenarnya saya punya peraturan di kelas, salah satunya tidak boleh mengadu. Peraturan itu saya buat karena saya sangat kerepotan dengan aduan mereka, sedikit-sedikit, "Bu…Dayat begini begini…", "Bu, ada yang ambil …" Kali ini saya mendiamkan si pengadu itu.
Hanya semenit kemudian, "Bu, Fandi juga nangis!!"
Akhirnya saya memberikan tugas dan meminta mereka mengerjakan di meja masing-masing. Anjar dan Fandi pun saya panggil.
"Kenapa, Anjar?" tanyaku.
Dengan mata berlinang dia curhat. Buku cetak matematikanya hilang sejak sebulan yang lalu, tadi sebenarnya saya tegur untuk mencarinya. Karena bagaimanapun dia butuh buku itu untuk latihan.
"Saya sudah cari dimana-mana, bu. Tapi hilang."
Saya marah. Tapi mana boleh marah pada anak umur 10 tahun yang sedang bingung.
"Anjar, kalau menangis apa bukunya bisa ketemu?" tanyaku.
Anjar menggeleng sambil menjawab,"Tidak, bu."
"Nah, tidak kan. Berarti perlu tidak menangis?"
Anjar kembali menggeleng.
"Ya, udah, kamu kerjakan tugasnya, salin aja dari buku temanmu. Dan tetap cari bukunya ya."
Anjar kemudian kembali ke tempatnya. Sekarang Fandi.
"Kok nangis, Fandi?"
"Tadi diledekin Dayat dan Aksan, Bu."
Nah, yang ini membuat aku gemes. Mau marah tapi lucu.
"Lah, kalo nangis memangnya Dayat dan Aksan berhenti ngeledekin?"
"Tidak, bu." kata Fandi sambil mengusap air matanya. Aku menatapnya, "Trus…tambah diledekin ga?"
Fandi mengangguk dan sebaris senyum malu-malu tampak di wajahnya.
"Dicuekin aja, Fandi. Perlu ga nangis?"
"Tidak, bu." jawab Fandi.
Dayat dan Aksan saya panggil. Dasar dua anak itu, mereka ketawa-tawa pas saya tanyain. "Bu, kan hanya bercanda, " Dayat membela diri. Akhirnya mereka bertiga salaman dan sudah tertawa-tawa kembali.
Saya pun lega dan berkeliling untuk melihat pekerjaan murid-muridku. Saat saya melihat murid-muridku yang laki-laki, terbersit sebuah permintaan di hati ini… Boys don’t cry!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar