Suntik Gajah
January 24th, 2007 by hestiwulandPada suatu hari, di sekolah ada pemberian imunisasi buat kelas kecil (kelas 1 - 3). Pagi-pagi, di kelas 3 A, warganya sudah sibuk ngomongin imunisasi. Ada yang memamerkan keberanian, ada yang takut-takut, ada yang nakut-nakutin temannya, ada yang saling menguatkan, dan berbagai reaksi lainnya.
Tiba giliran kelas 3 A, mereka dengan berbagai perasaan yang berbaur menyerbu ruang UKS yang telah dipenuhi oleh perawat dari PUSKESMAS Sorowako dan para dokter kecil sekolah (mereka ini siswa kelas besar, kelas 4 - 6). Satu per satu pun maju untuk menghadapi jarum suntik. Para dokter kecil bekerja dengan baik sekali, mereka sukses membesarkan hati adik-adik kelas mereka. Kecuali satu anak dari kelas 3 A, Jasmin.
Jasmin sebenarnya udah di dalam ruangan, perawatnya sudah siap menyuntik, dan dia sudah dibujuk, dipeluk, secara bergantian oleh para dokter kecil dan perawat PUSKESMAS.Tapi dia tetap bertahan sambil berurai air mata. Makin lama mengeluarkan suara tangis dan pipinya kebanjiran. Saya lalu masuk (padahal serem banget lihat jarum suntiknya).
"Kenapa nangis, sih, Jasmin?" Tanyaku sambil memeluknya tetapi membiarkan lengan kirinya terbuka bebas. Perawatnya pun tidak membuang waktu, dan … selesai deh sebelum Jasmin berhenti menangis dan menjawab pertanyaanku.
Ruang UKS jadi gegap gempita dengan suksesnya. Kuajak Jasmin berjalan ke kelas. Wajahnya masih sembab, padahal dia salah satu wanita pemberani di kelas. Makanya, kejadian tadi mengundang tanya dan geli.
"Habisnya kakakku tadi bilang disuntik pake suntik gajah, bu. Aku kan jadi takut." curhatnya sambil menahan dongkol.
Maaf saja, saya tidak bisa menyembunyikan senyum geli.
Geby, teman sekelasnya yang pendiam, kebetulan mendengar curahan hati Jasmin. Dia tumben-tumbennya mau mengeluarkan suara untuk ngomongin ini,"Tapi harusnya kamu kan tahu, tidak mungkin pakai suntik gajah. Kita kan manusia."
Jasmin menoleh padanya dengan wajah ‘be te’.
"Maksudnya bukan suntik untuk gajah, tapi suntik yang segede gajah!" sahutnya. Tangisannya sudah hilang.
"Oooo…" Geby manggut-manggut.
Dan saya melarikan diri untuk melepaskan tawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar