Kamis, 03 Februari 2011

Cerita Bersama Sang Murid 16

We care about our planet!

April 23rd, 2008 by hestiwuland
Selasa, 22 April 2008, murid-muridku udah siap dengan baju house mereka (kayak pelangi berwarna warni), tangan mereka terbungkus kaos tangan berkebun (ada yang warna warni juga, lucuuu, tapi menurutku sayang ajah ya bakalan kotor ;p ) dan gaya siap tempur dengan sekop berkebun mereka. Today we’re planting the trees!
Mereka terbagi dalam 3 kelompok menanam. Setelah diberikan pengarahan, mereka langsung menyerbu lubang yang sudah tersedia untuk menanam. Mereka dengan semangat menyampur tanah hasil galian dengan kompos lalu memasukkan bibit pohon ke lubang, membuka plastik pembungkus tanahnya hati-hati dan menanamnya. Suasananya rame banget, di bagian sana kelas lain juga heboh dan sibuk dengan bibit pohon mereka. Di sini tak kalah ramenya, Raihan berpartisipasi membuat ramai dengan mengambil tanah-tanah basah dan membuangnya ke lubang begitu saja diiringi jeritan teman-temannya yang terciprat, Orsal ribut memberi instruksi sambil memegang erat-erat bibit pohon itu layaknya barang berharga (dan baru kali ini melihatnya seserius itu…), Carissa, Anin,Kirana, Ara, Widya dan semua yang putri rame-rame menimbun bibit pohon rambutan mereka.
Jam 9, … Horeeeeee!
"Bu Hesti, pohon kami udah tertanam!" Sorak mereka seru.
"Wah hebat, nanti dirawat ya," sahutku kagum. Mereka tersenyum lebar dengan senang. Aduh, senangnya lihat wajah polos mereka yang keringatan setelah menanam pohon.
Raihan menghampiriku,"Aku sudah jadi tukang kebun yang handal, bu Hesti." Lapornya.
"Sip, Raihan," kataku, yang penting kamu dan yang lainnya senang hari ini.
Setelah istirahat, mereka lalu menuliskan nama pohon yang mereka tanam dan nama-nama penanamnya. Nanti mereka akan memasangnya di depan pohon itu.
Hari itu hari yang sangat menyenangkan. Di saat yang sama mungkin ada orang yang sedang menebang pohon, hati siapa sih yang tidak sedih. Mau marah-marah juga toh pohonnya sudah tertebang, hutannya sudah menghilang. Tapi di saat ini saya bangga karena sedang mendidik murid-muridku untuk menanam dan mencintai pohon dan mereka belajar melalui pengalaman langsung melihat bahwa sebuah pohon itu sama seperti kita, tumbuh dari kecil yang butuh diperhatikan, dirawat dan disayangi. Kelak akan tumbuh dewasa dengan baik. Anak-anak kecil ini telah melakukan bagian mereka dengan sangat baik yaitu menanam pohon di lingkungan mereka, sudahkah anda melakukan bagian anda dengan baik? :D
Selasa, 22 April 2008, SD YPS Singkole cares about our planet bukan hanya sebuah tema, tapi sebuah tindakan nyata. Btw, salah satu hal yang membuatku bahagia pada hari itu karena sayalah koordinatornya, tulisan ini saya buat sebagai prasasti sejarah untuk kerja kerasku dan teman-teman guru SDS lainnya: Natalia, Pak Aep, Pak Akko, Pak Rustan, Pak Nova, Pak Agung, Pak Darmatika, dll…  dan untuk kerja keras murid-murid kami di SD Singkole.

We really do care about our planet :)

Cerita Bersama Sang Murid 15

So sweet …

January 24th, 2008 by hestiwuland
Kejadian ini baru beberapa hari yang lalu. Pagi itu hujan masih mengguyur kota Sorowako. Aku memutuskan untuk ikut bis sekolah ketimbang naik ojek (…dengan kata lain memaksakan diri tepat jam 7 pagi sudah ada di shelter bus Lawewu…hal yang jarang terjadi belakangan ini ;p ). Benar juga, hujan masih senang menyapa Sorowako.
Aku turun dari bis, berjalan berpayung ke kelasku sambil mengajak Corin yang hanya memakai jas hujannya. Aku melihat Raihan yang berteduh di teras kelas bersama teman-temannya. Hal yang tak kuduga adalah dia kemudian memayungi kepalanya dengan jaket hitam parasutnya, melangkah ke lapangan, menyeberanginya dan berdiri menunggu di atas anak tangga. Kayanya lagi nungguin aku deh :D
Tuh kan, nungguin aku. Raihan sudah merentangkan tangannya yang memegang salah satu ujung jaket yang menutupi kepalanya ketika kusapa.
"Bu Hesti, sekarang ini hujan. Ayo berlindung." Katanya sembari tetap melebarkan jaketnya.
Terdengar suara tawa dari teras blok kelas kecil (Kelas kecil itu kelas 1, 2 dan 3).
"Raihan, ibu Hesti kan sudah pake payung," kataku."Yuk, jalan ke kelas."
Raihan -dengan masih tetap merentangkan jaketnya melindungi kepalanya dari hujan plus memberi tempat untuk seseorang ikut dia lindungi dari hujan- berjalan di depanku. Aku masih pake payung dong, memayungi Corin juga.
Akhirnya sampai juga di teras,"Terima kasih, ya, Raihan."
"Sama-sama, bu Hesti," sahutnya cuek.
So sweet… He’s my student loh :P

Cerita Bersama Sang Murid 14

Bu, hari ini mamaku ulang tahun…

January 24th, 2008 by hestiwuland
Menjelang pulang sekolah, tiba-tiba Vi menghampiriku dengan agak ragu-ragu.
"Bu Hesti, hari ini mamaku ulang tahun," katanya.
"Oh ya?" Sahutku spontan. "Sampaikan selamat ulang tahun ya dari bu Hesti untuk mamanya Vi."
Vi mengangguk senang dan segera berlalu.
Aku terharu mendengarnya. Vi tampak sangat menyayangi ibunya sampai-sampai membiarkan seluruh dunia tau kalau hari ini ibunya ulang tahun. Dulu, aku juga begitu ga ya? Kalau ke guru siy mungkin tidak ya…tapi ke teman-temanku jelas kuberitahu hehehehe…
Selamat ulang tahun ya, ibunya Vi.

Cerita Bersama Sang Murid 13

Suntik lagi?!

December 11th, 2007 by hestiwuland

Raihan tiba-tiba menarik-narik lenganku. Wajahnya tampak panik. Hm, ada apa lagi ya, pikirku. Belum sempat terucap sebuah pertanyaan, Raihan mengeluarkan pertanyaannya duluan,”Bu, kita mau disuntik lagi, ya?” Suntik? Ah, iya… duuuh… Tapi dia tahu dari mana ya? “Kata siapa mau disuntik lagi?” “Itu, bu… ada surat…” Oke, Bu Ety mungkin lihat aku sibuk jadi nitip surat itu ke Raihan. “Coba ibu Hesti lihat suratnya…” kataku sambil berjalan ke mejaku dan diekori Raihan plus beberapa anak lain yang rasa ingin tahunya tinggi sekali. Kubaca surat itu dan menunjukkan ekspresi ‘surprise’ (lagi akting…biasaaaa…jadi guru harus siap jadi pemain peran juga  ) “Waaaaah…kalian kan waktu itu pingin disuntik lagi kaaaan…” Seruku. “Ibu Hesti ga sangka ya ternyata susternya baik hati mau datang lagi untuk suntik kalian…” Raihan melongo…beberapa anak ada yang bersorak gembira. Beberapa bulan lalu ketika ada suntik campak di sekolah, mereka excited ingin suntik lagi jadinya kubilang ajah “Ntar Ibu Hesti bilang ke susternya…” “Bu, aku tidak mau disuntik lagi…” kata Raihan cemas. Raihan, ibu Hesti juga cemas niy kamu harus disuntik lagi, artinya harus berpikir keras lagi cari cara membujukmu. Waktu itu, beberapa bulan lalu, aku bekerja sama dengan ibunya dan mantan terapisnya untuk mempengaruhi dia kalo di tubuhnya banyak musuh dan butuh tentara untuk melawannya. Raihan waktu itu berkeras kalo kapsul dari rumah sakit sudah cukup tentaranya. Kami juga berkeras kalau tentara di kapsul itu masih sedikit…sampai-sampai aku bawain dia foto anak yang kehilangan kakinya akibat perang (maap…maap…kalo Raihan dah gede pasti dia bete banget udah dikibulin hehehehe) dan kubilang kalau anak yang difoto itu ga mau disuntik. Alhasil, Raihan berhasil disuntik. Cara berikutnya…Aha!!! “Ibu Hesti mau tau niy…siapa yang senang disuntik lagi? Kalo senang teriak dengan senang doooong…” kataku. Yup, murid-muridku pinter deh, mereka tau kalo aku lagi membujuk Raihan jadinya mereka bersorak senang. “Kalo Raihan gimana…senang ga disuntik lagi?” Tanyaku di sela gegap gempitanya kelasku. Sambil memandangi teman-temannya yang senang, Raihan berteriak juga”Yeyyyy…” sambil kembali ke tempat duduknya. Keesokan harinya, dia membawa sendiri surat ijin imunisasi dari ibunya (Dulu, mesti ibunya yang bawa surat itu ke aku.) Hehehehehehe… Kita liat saja hari H-nya nanti hehehehehe (still wondering…)

Cerita Bersama Sang Murid 12

Learning from her

November 25th, 2007 by hestiwuland

Pertama kali ketika aku tahu murid baru di kelasku menderita CP, aku sempat khawatir. Aku cuma tahu sedikit sekali tentang CP (Cerebral Palsy). Tapi ketika bertemu langsung dengan ibu dan anaknya, aku malah semangat dan menganggap tidak semua guru punya kesempatan membimbing anak dengan CP. Hari-hari pertama, dia seperti membawa dunia lain ke hidupku. Di depan mata kepalaku sendiri aku melihat seorang gadis kecil yang begitu percaya diri dan mandiri.

Teman-teman sekelasnya sempat kaget dan speechless dengan kehadirannya. Posturnya kecil. Dia punya masalah dengan kemampuan motorik halus dan kasar. Teman-temannya sampai bertanya ke aku,"Bu, kenapa dia kalo ngomong mulutnya mesti miring?" dan aku tidak bisa menjawab. Anak kelas 2 SD belum bisa mengerti tentang CP. Sebagai gantinya aku bilang, kalian berbicaralah dengan cara kalian sendiri saja dan dia dengan caranya sendiri. Hm…tapi senyum dia sangat manis loh.

Dia sangat percaya diri, berkali-kali aku membuktikannya. Saya suka sekali mengawali pelajaran dengan memberikan banyak pertanyaan (sekalian mengecek sejauh mana mereka tahu sebelum kuajarin) dan dia PD loh angkat tangan dan menjawab. Dia tetap berusaha keras untuk mengeluarkan suaranya untuk menjawab. Hal yang positifnya, murid-muridku yang lain ternyata punya rasa empati yang tinggi, mereka mau memberinya waktu yang lebih lama untuknya dan mau mencoba mengerti apa yang dia ucapkan.

Dia sangat mandiri. Dia tidak pernah minta tolong ke temannya untuk mengambilkan sesuatu buatnya. Dia selalu bergerak dan mengambilnya walaupun susah payah. Tapi teman-temannya yang baik hati, tentu saja tidak membiarkannya sendirian. Seperti pelajaran matematika barusan, dia mau mengukur sendiri panjang papan tulis dan lainnya. Padahal dia butuh perjuangan yang lebih dari anak-anak lain untuk bergerak.
Aku belajar banyak hal darinya. Hidup ini bukan untuk dilewatkan dengan keluh kesah…hidup ini pantas dilalui dengan rasa syukur atas apa yang kita miliki.

…dan aku berdoa, semoga aku diberi waktu untuk melihatnya menjadi seorang wanita yang sukses dalam hidupnya. Karena dia sudah memulainya.

Cerita Bersama Sang Murid 11

Poems by grade 3Aers

June 18th, 2007 by hestiwuland
1. By Dita
Terimakasih Guruku (Bu Hesti)
Guruku…
Kau yang mendidikku menjadi anak yang berguna…
Kau yang mengajariku dengan sabar…
Guruku…
Suaramu yang lembut…
Membuat hatiku menjadi tenang…
Wajahmu yang teduh…
Membuatku selalu ingin dalam perhatianmu…
Guruku…
Seribu untaian ucapan terima kasih…
Tidak mampu membalas semua jerih payahmu…
Aku hanya bisa untuk tidak mengecewakanmu…

2. By Jasmin
Kenangan Bersama Bu Hesti
Di hari pertama
Lawakan terdengar
Canda tawa berseru
Bersama teman sekelas
Di hari kedua
Pelajaran dimulai
Anak-anak mulai serius menghadapi ujian
Yang tak lama datang
Berhari-hari telah berlalu
Ujian telah selesai
Anak-anak bersedih hati
Karena berpisah dengan bu Hesti
Bu Hesti, engkau selalu di hati kami
Bu Hesti adalah matahari kami

3. By Amalia
Guru yang baik hati (Bu Hesti)
Guruku…
Kau telah mengajariku berbagai macam ilmu
Kau telah menjadikanku anak yang pintar
Guruku…
Kau telah memberiku tugas
Kau telah mengajariku pelajaran yang susah
Guruku…
Kau telah mengajariku tugas-tugas yang susah
Kau telah menjadikanku anak yang baik
Terima kasih guruku

4. Story by Rizka
Meninggalkan kelas 3A
Rasanya berat deh Rizka tinggalin kelas ini.
Emang sih cape sedikit, tulis-menulis terus setiap hari Senin s/d Jumat.
Tapi kayaknya baru masuk kelas 3 A kemarin.
Yah tapi apa boleh buat, semuanya harus naik ke kelas 4.
Terima kasih ya, bu Hesti, karena udah ngajar kami ber-26 dengan baik.
Walau kadang-kadang dimarahin.
Sekali lagi Rizka ngucapin terima kasih.
Selamat tinggal bu Hesti.
We love u mam Hesti.

Cerita Bersama Sang Murid 10

Suntik Gajah

January 24th, 2007 by hestiwuland
Pada suatu hari, di sekolah ada pemberian imunisasi buat kelas kecil (kelas 1 - 3). Pagi-pagi, di kelas 3 A, warganya sudah sibuk ngomongin imunisasi. Ada yang memamerkan keberanian, ada yang takut-takut, ada yang nakut-nakutin temannya, ada yang saling menguatkan, dan berbagai reaksi lainnya.
Tiba giliran kelas 3 A, mereka dengan berbagai perasaan yang berbaur menyerbu ruang UKS yang telah dipenuhi oleh perawat dari PUSKESMAS Sorowako dan para dokter kecil sekolah (mereka ini siswa kelas besar, kelas 4 - 6). Satu per satu pun maju untuk menghadapi jarum suntik. Para dokter kecil bekerja dengan baik sekali, mereka sukses membesarkan hati adik-adik kelas mereka. Kecuali satu anak dari kelas 3 A, Jasmin.
Jasmin sebenarnya udah di dalam ruangan, perawatnya sudah siap menyuntik, dan dia sudah dibujuk, dipeluk, secara bergantian oleh para dokter kecil dan perawat PUSKESMAS.Tapi dia tetap bertahan sambil berurai air mata. Makin lama mengeluarkan suara tangis dan pipinya kebanjiran. Saya lalu masuk (padahal serem banget lihat jarum suntiknya).
"Kenapa nangis, sih, Jasmin?" Tanyaku sambil memeluknya tetapi membiarkan lengan kirinya terbuka bebas. Perawatnya pun tidak membuang waktu, dan … selesai deh sebelum Jasmin berhenti menangis dan menjawab pertanyaanku.
Ruang UKS jadi gegap gempita dengan suksesnya. Kuajak Jasmin berjalan ke kelas. Wajahnya masih sembab, padahal dia salah satu wanita pemberani di kelas. Makanya, kejadian tadi mengundang tanya dan geli.
"Habisnya kakakku tadi bilang disuntik pake suntik gajah, bu. Aku kan jadi takut." curhatnya sambil menahan dongkol.
Maaf saja, saya tidak bisa menyembunyikan senyum geli.
Geby, teman sekelasnya yang pendiam, kebetulan mendengar curahan hati Jasmin. Dia tumben-tumbennya mau mengeluarkan suara untuk ngomongin ini,"Tapi harusnya kamu kan tahu, tidak mungkin pakai suntik gajah. Kita kan manusia."
Jasmin menoleh padanya dengan wajah ‘be te’.
"Maksudnya bukan suntik untuk gajah, tapi suntik yang segede gajah!" sahutnya. Tangisannya sudah hilang.
"Oooo…" Geby manggut-manggut.
Dan saya melarikan diri untuk melepaskan tawa.