Saat pertengahan tahun 80'an yang saya lupa tepatnya tahun seribu sembilan ratus delapan puluh berapa, rumah orang tua saya masih mempunyai halaman yang cukup luas untuk tempat saya dan adik-adik bermain. Ada dua ayunan dan halaman berumput jepang yang berada di dalam pagar rumah. Hampir setiap sore halaman kami berubah layaknya taman bermain bagi saya dan tetangga seusia yang kesemuanya anak laki-laki. Ramai tentu saja. Berebutan giliran untuk bermain ayunan sampai bermain perang-perangan di halaman berumput jepang yang dibuat oleh Pappi (saya dan adik-adik menyebut bapak atau ayah kami dengan 'pappi', seharusnya papi, tetapi lidah kami lebih mantap dengan dobel p :D )
Suatu hari, terjadi pertengkaran sengit untuk merebut giliran bermain ayunan lagi. Sayang saya sudah lupa asal muasalnya namun yang tertinggal dalam ingatan adalah saya sebagai anak perempuan yang merasa sebagai pemilik ayunan dan terbawa kebiasaan mengatur teman di kelas karena sering menjadi ketua kelas, mulai menggunakan hak prerogative. Saya menentukan siapa yang bermain duluan dan setiap giliran hanya boleh berayun sekian kali (lagi-lagi saya lupa jumlah ayunan dalam keputusan saya ketika itu) lalu bergantian dengan teman lain. Mereka yang belum dapat giliran bermain, saya wajibkan menjadi 'murid' di 'sekolahan' saya. Yang masih tertinggal dalam ingatan saya kisah 20an tahun lalu itu adalah beberapa anak duduk menghadapi papan tulis mini dan saya yang sibuk 'mengajar' angka di teras rumah kami. Alhasil, suasana di halaman rumah bisa lebih tenang dan saya menikmati hari pertama menjadi seorang guru... Hahahaha
Sorowako, 3 September 2010
:: tepat 5 tahun menjadi guru di SD YPS Singkole, Sorowako::
Tidak ada komentar:
Posting Komentar