Saya menulis cerita ini sekalian napak tilas perjalanan panjang yang ternyata membawaku menjadi seorang guru kini. Sebelumnya saya sudah menceritakan hari pertama saya menjadi 'guru' bagi anak-anak tetangga ketika saya berusia awal masa sekolah dasar di pertengahan tahun 80-an. Kesibukan menjadi anak sekolah dasar dan adanya jarak pertemanan antara anak laki-laki dan anak perempuan di usia tersebut membuat 'sekolah'an saya di sela waktu bermain sore kami pun terhenti.
Ketika menjelang menuntaskan masa 6 tahun dengan seragam putih merah, tiba-tiba seorang ibu tetangga saya datang ke rumah. Niat ibu tetangga saya saat itu untuk memintaku mengajar matematika buat anaknya yang sepantaran dan setingkat kelas dengan saya namun beda sekolah. Ha ha ha
Ingin rasanya menolak, tapi Mammi sudah langsung mengiyakan. Alasannya sederhana saja, biar saya lebih sering belajar menjelang EBTANAS (Jaman saya SD, sebutan untuk Ujian Akhir Sekolah Bertandar Nasional atau UASBN adalah Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional... entah apa alasannya sebutan untuk ujian lulus SD itu harus berubah, tapi intinya saya harus belajar sungguh-sungguh untuk lulus dengan nilai memuaskan saat itu).
Jadilah sang tetangga yang tinggal sebelah rumahku datang ke rumah setelah shalat maghrib. Sebenarnya sih saya tidak mengajar dia sebenar-benarnya orang mengajar seperti guru di bimbingan belajar. Lah kami kan sama-sama anak kelas 6 SD, cuma beda sekolah. Kami hanya mengerjakan latihan soal bersama, kalau diistilahkan sih namanya belajar kelompok. Tapi menyenangkan juga punya teman belajar matematika menjelang ujian. Alhamdulillah, usaha kerasku tidak sia-sia. Saya berhasil lulus EBTANAS dengan gemilang. Dan tetanggaku? Kami sudah tidak berbeda sekolah lagi saat sekolah di SMP :)
Sorowako, 3 September 2010
::sang tetangga saat ini sudah bekerja di bagian accounting di sebuah perusahaan tambang besar di daerah kami::
Tidak ada komentar:
Posting Komentar